Lastri Di Abad Pertengahan

/I/
Tapi Lastri telah mati.
Badan rampingnya remuk di amuk tronton tadi pagi.
Sebelah tangannya yang nakal, entah kiri atau kanan,ditemukan tersangkut pada gerobak sapi, di roda belakang. Ususnya melilit di tiang listrik
Kaki-kaki jenjangnya yang baru bergelinjang di depan pelanggan semalam , terseret ke selokan.
Paha mulus yang tak absen diendus para anjing hidung belang, terbengkalai di depan kakus.jadi bangkai.
Dan sisanya, hanya kepala dengan kantung mata tak berbiji.
itupun sudah terlempar ke ujung kali.tadi pagi.
Dua biji matanya sudah habis dijilat.dicongkel.dan kini ditenteng keliling kampung untuk diperebutkan anjing-anjing tengil.

/II/
Lastri sudah mati,
sejak malam pertama ia mengenal anyir mani yang disodorkan sang mucikari.
Bahkan pada malam-malam sebelumnya, saat suatu malam
pria yang dulu menyeru adzan ditelinganya ketika lahir
tiba-tiba berubah jadi anjing.
Pinggir mulutnya mengalir liur bau anyir.
Jangat berkeringat, otot berkawat tumplek tindih di tubuh Lastri.
Saat itu, awal Lastri telah mati. Dan pada setiap lelakilah, Lastri berteriak dalam hati : anjing!
Tapi sebab itu, Lastri kemudian tampil bak penyayang binatang.
Meladeni anjing-anjing tengil yang berjakun sebesar kemiri.menyuapi.menyusui.

/III/
Lastri benar-benar mati
Otaknya muncrat! Tergilas sedan dari selatan..
Sedang bagian lain tubuh Lastri, yang sekalipun belum sempat digauli, sekarang masih tercecer di sisi trotoar.Kasihan, hati dan jantung Lastri bersenggama tak aturan dengan aspal
Padahal di tepi jalan, tempat Lastri tewas terlindas pagi tadi
Ada yang mencintainya sejak kecil, seorang kucing
Bukan anjing!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lastri Di Abad Pertengahan

/I/
Tapi Lastri telah mati.
Badan rampingnya remuk di amuk tronton tadi pagi.
Sebelah tangannya yang nakal, entah kiri atau kanan,ditemukan tersangkut pada gerobak sapi, di roda belakang. Ususnya melilit di tiang listrik
Kaki-kaki jenjangnya yang baru bergelinjang di depan pelanggan semalam , terseret ke selokan.
Paha mulus yang tak absen diendus para anjing hidung belang, terbengkalai di depan kakus.jadi bangkai.
Dan sisanya, hanya kepala dengan kantung mata tak berbiji.
itupun sudah terlempar ke ujung kali.tadi pagi.
Dua biji matanya sudah habis dijilat.dicongkel.dan kini ditenteng keliling kampung untuk diperebutkan anjing-anjing tengil.

/II/
Lastri sudah mati,
sejak malam pertama ia mengenal anyir mani yang disodorkan sang mucikari.
Bahkan pada malam-malam sebelumnya, saat suatu malam
pria yang dulu menyeru adzan ditelinganya ketika lahir
tiba-tiba berubah jadi anjing.
Pinggir mulutnya mengalir liur bau anyir.
Jangat berkeringat, otot berkawat tumplek tindih di tubuh Lastri.
Saat itu, awal Lastri telah mati. Dan pada setiap lelakilah, Lastri berteriak dalam hati : anjing!
Tapi sebab itu, Lastri kemudian tampil bak penyayang binatang.
Meladeni anjing-anjing tengil yang berjakun sebesar kemiri.menyuapi.menyusui.

/III/
Lastri benar-benar mati
Otaknya muncrat! Tergilas sedan dari selatan..
Sedang bagian lain tubuh Lastri, yang sekalipun belum sempat digauli, sekarang masih tercecer di sisi trotoar.Kasihan, hati dan jantung Lastri bersenggama tak aturan dengan aspal
Padahal di tepi jalan, tempat Lastri tewas terlindas pagi tadi
Ada yang mencintainya sejak kecil, seorang kucing
Bukan anjing!