Peziarah Yang Tak Sempat Singgah

Tepekur aku di batu hitam
Menggerayang lembut wangi batang cempaka
Candhik kala memangku mesra rinduku
Duh Gusti...
Sudah kutulis cinta di satu nisan
Pun kusiapkan sayang dalam mahar selembar kafan
Kapankah pinangan ini Kau sambut??

Duhai langit,(penghulu penghalau kelabu)
Wahai bumi,(saksi setiap derak sujud meditasiku)
Menyibaklah sebagai hijab,biar terkabul satu ijab

Rumput--lumut--semut
Kuselip antara kalian sebuah cungkup
Malam--siang--petang...
Kutitip takdir akhirku pada kalian

Bias candhik kala menyilau mataku
Satu keranda berkelebat
Ranjang yang kuhampar
Pinggiran yang kuhias dengan batang cempaka
Juga cungkup berkayu cendana
Ditakdir untuk jasad orang lain

Duh Gusti Pangeran...
Candhik kala itu menabuh rinduku menjadi tetesan di batu hitam
Lalu seleret memberi isyarat

Duh Gusti!
Terkesiap aku sadar
Satu dari lima waktuku telat,terlewat!
Satu meditasi harus terkejar dengan ayat semburat
Inikah tanda kenapa belum sudi Kau ijinkan aku mati??

Tiga denyut nadi dalam dua tarikan nafas
Menyongsongku terhenyak ingat tentang jenazah tadi
Duh Gusti Pangeran,
Terhitungkah itu sebagai dosa

Jika pada chandik kala sudah tegas kuberkata
"Sampaikan maafku,aku hanya peziarah yang tak sempat singgah"...

Lembaran Mayang

Angin mulai gila
Mencari arah tak kunjung bertandang
Di ranah tak kukenal segaraku tumpah
Tanah pun berubah jingga,merona dijilat lidah senja

Tak ada pengakuan!
Aku diam,
Mengejan
Sebab karang membantah muntahkan bahasa petir

Mayang-mayang bertebaran
Segala kalam,
Terinjak, dihujat!
Oh Biyung..,kembalikan aku ke pangkuan

Di tanah lapang tak berhumus ini
Ku cari siapa aku
Ribuan bahkan beratus sajak yang ku tulis
Tak ada makna, tak ada membaca

Aku adalah penyair!
Yang bahasa jadi panah,Meski papa---nanah
melarat kata, kehilangan abjad
Kunobatkan diri jadi penyair

Oh Biyung..,kembalikan aku ke pangkuan
Sebab aku penyair
Yang karyanya laruh merenggut nyawa
Hanya untuk mencari sebuah pengakuan!

Teruntuk Ken

Ken

ken dur ------untuk sayangmu

du ri -----kau bagiku
ken
du
ri

ken

du

rin

du
Ken

ken du ri ---- kupaksa rasaku

kenduri ----kugelar atas matimu

( Untuk Ken,
Dariku yang merindukanmu...)

Siluet Kematian

Siluet kasih itu kupancang di tiang-tiang malam
Kulukiskan ornamen rindu dikubah langit selatan
Tetap tak bisa kucandra wajahmu pada mimpiku
Hanya semburat buram,suram,seram membayang

Kecewaku bergelinjang di serabut benak yang tak sejenak
Rindu ini,suka ini..yang dulu menderu
kini berselubung debu
kau kemana ke sana?Dimana kau di sana?

Antara surga yang kau buru dan neraka yang kau tak tahu
Aku pun terbias hawa barzah di atas dunia ini
Meski di telapak kaki bumi telah tertelungkup kening cinta kita
Pun kita menyimpuh sujud demi meraih restu dunia
Mati itu tak bisa dihadang

Dan kini pada belati kucium harum melati,
Aroma semerbak..
Perlahan mendekat,seketika menyergap
dan menggulungku dalam wangi kematian

Air niraku menetes,di tanah basah bercampur darah
"aku mencintaimu, hingga kematian menjemputku"
Ucapmu itu sungguh manis sayang...
Tapi sungguh sayang,bagiku itu tak berlaku

Sayang...
Aku mencintaimu,maka biarkan aku sendiri yang menjemput kematian itu
sekarang!

Pada belati tak lagi terendus melati
Ada anyir mengalir dalam satu hela nafas terakhir...

Prasetya Dewabrata

Pras..
Diantara huma dan ladang tak bernyawa aku singgah
Ada sebuah kastil tua yang kudirikan dengan pagar kesetiaan disana
Setiap sisi ruangnya kusepuh dengan tirai kasih tulus
Kupancangkan pasak-pasak harapan di tiap lekuk bangunannya
Pun tak lupa kuwarnai dinding-dinding hati dengan warna putih biru..
Warna yang kau bilang lambang dari kasih yang suci juga rindu

Pras...
Setengah windu Pras,
Setengah windu aku menunggumu
Dan tanah tak bertuan ini lah yang kau janjikan menjadi tempat kita bertamu dan bertemu

Pras...
Dihari ketujuh,pada pertengahan tahun sewindu yang lalu
Aku tak pernah lupa,saat itu bulan sedang tidak purnama
Dan kala itu lah,
Kau ucap sebait kalimat,yang lalu kuanggap sebagai prasetya
Sebuah janji yang pasti kau tepati
"Tunggu aku di kabisat kedua.Dalam tahun,hari,juga waktu yang sama"

Tapi Pras,
Kabisat kedua sudah lewat
Setengah windu itu sudah berlalu tepat tujuh hari yang lalu
Tetap saja aku tak merasakan kepulanganmu Pras..

Sebenarnya titah apa yang hendak kau bawa,
Dan akan kau haturkan pada siapa

Pras...
Sudah lenyapkah kesadaranmu
Sudah hilangkah separuh akalmu
Hingga kau tafsir titah tak bernama itu sebagai cinta
Lalu hendak kemana titah itu kau bawa?
Dan akan kau haturkan pada siapa?

Kau pergi dengan alasan untuk menyampaikan titah itu,
Lalu bagaimana dengan aku,
yang lebih dari setengah windu kau suruh untuk menunggu??

Di sini,
Diantara huma,ladang tak bernyawa,juga kastil tua
Telah kupahat prasasti dengan namamu Pras..
pun ku tuliskan riwayat Prasetya Dewabrata di sana
Lengkap dengan ukiran nelangsa juga goresan nestapa
Tidakkah kau tahu Pras?,
Prasasti itu ku ukir dengan pena cinta yan masih tersisa
dan juga tinta air mata...

Itu lah aku Pras...
Aku yang masih bertahan menunggumu
Aku yang tetap memegang janjiku kala itu,
"Ya,Aku akan menunggumu dikabisat kedua.bahkan kabisat ketiga,keempat dan berikutnya..."

catatan khusus : Arghh,sepertinya otakku sudah mulai berkarat Pras...
Apalagi hatiku, sepertinya memang ikut sekarat.
Aku kenal betul siapa kau Pras,bahkan caruk-maruk dalam ceruk hatimu aku pun bisa ikut merasakan...
Coretan ini adalah tentangmu Pras,
Ttg seorang "Dwi Prastiani", sahabat sekaligus saudara bagiku,yang saat ini menunggu Prasetya Dewabratanya.
Seseorang yang diharapkan mampu memegang janjinya/setia(prasetya).

Sabarlah Pras, Prasetyamu pasti datang.
meski tak bisa kupastikan prasetyamu akan hadir dengan wujud yang sama seperti sebelumnya ataukah muncul prasetya lain yang berbeda...

Peziarah Yang Tak Sempat Singgah

Tepekur aku di batu hitam
Menggerayang lembut wangi batang cempaka
Candhik kala memangku mesra rinduku
Duh Gusti...
Sudah kutulis cinta di satu nisan
Pun kusiapkan sayang dalam mahar selembar kafan
Kapankah pinangan ini Kau sambut??

Duhai langit,(penghulu penghalau kelabu)
Wahai bumi,(saksi setiap derak sujud meditasiku)
Menyibaklah sebagai hijab,biar terkabul satu ijab

Rumput--lumut--semut
Kuselip antara kalian sebuah cungkup
Malam--siang--petang...
Kutitip takdir akhirku pada kalian

Bias candhik kala menyilau mataku
Satu keranda berkelebat
Ranjang yang kuhampar
Pinggiran yang kuhias dengan batang cempaka
Juga cungkup berkayu cendana
Ditakdir untuk jasad orang lain

Duh Gusti Pangeran...
Candhik kala itu menabuh rinduku menjadi tetesan di batu hitam
Lalu seleret memberi isyarat

Duh Gusti!
Terkesiap aku sadar
Satu dari lima waktuku telat,terlewat!
Satu meditasi harus terkejar dengan ayat semburat
Inikah tanda kenapa belum sudi Kau ijinkan aku mati??

Tiga denyut nadi dalam dua tarikan nafas
Menyongsongku terhenyak ingat tentang jenazah tadi
Duh Gusti Pangeran,
Terhitungkah itu sebagai dosa

Jika pada chandik kala sudah tegas kuberkata
"Sampaikan maafku,aku hanya peziarah yang tak sempat singgah"...

Lembaran Mayang

Angin mulai gila
Mencari arah tak kunjung bertandang
Di ranah tak kukenal segaraku tumpah
Tanah pun berubah jingga,merona dijilat lidah senja

Tak ada pengakuan!
Aku diam,
Mengejan
Sebab karang membantah muntahkan bahasa petir

Mayang-mayang bertebaran
Segala kalam,
Terinjak, dihujat!
Oh Biyung..,kembalikan aku ke pangkuan

Di tanah lapang tak berhumus ini
Ku cari siapa aku
Ribuan bahkan beratus sajak yang ku tulis
Tak ada makna, tak ada membaca

Aku adalah penyair!
Yang bahasa jadi panah,Meski papa---nanah
melarat kata, kehilangan abjad
Kunobatkan diri jadi penyair

Oh Biyung..,kembalikan aku ke pangkuan
Sebab aku penyair
Yang karyanya laruh merenggut nyawa
Hanya untuk mencari sebuah pengakuan!

Teruntuk Ken

Ken

ken dur ------untuk sayangmu

du ri -----kau bagiku
ken
du
ri

ken

du

rin

du
Ken

ken du ri ---- kupaksa rasaku

kenduri ----kugelar atas matimu

( Untuk Ken,
Dariku yang merindukanmu...)

Siluet Kematian

Siluet kasih itu kupancang di tiang-tiang malam
Kulukiskan ornamen rindu dikubah langit selatan
Tetap tak bisa kucandra wajahmu pada mimpiku
Hanya semburat buram,suram,seram membayang

Kecewaku bergelinjang di serabut benak yang tak sejenak
Rindu ini,suka ini..yang dulu menderu
kini berselubung debu
kau kemana ke sana?Dimana kau di sana?

Antara surga yang kau buru dan neraka yang kau tak tahu
Aku pun terbias hawa barzah di atas dunia ini
Meski di telapak kaki bumi telah tertelungkup kening cinta kita
Pun kita menyimpuh sujud demi meraih restu dunia
Mati itu tak bisa dihadang

Dan kini pada belati kucium harum melati,
Aroma semerbak..
Perlahan mendekat,seketika menyergap
dan menggulungku dalam wangi kematian

Air niraku menetes,di tanah basah bercampur darah
"aku mencintaimu, hingga kematian menjemputku"
Ucapmu itu sungguh manis sayang...
Tapi sungguh sayang,bagiku itu tak berlaku

Sayang...
Aku mencintaimu,maka biarkan aku sendiri yang menjemput kematian itu
sekarang!

Pada belati tak lagi terendus melati
Ada anyir mengalir dalam satu hela nafas terakhir...

Prasetya Dewabrata

Pras..
Diantara huma dan ladang tak bernyawa aku singgah
Ada sebuah kastil tua yang kudirikan dengan pagar kesetiaan disana
Setiap sisi ruangnya kusepuh dengan tirai kasih tulus
Kupancangkan pasak-pasak harapan di tiap lekuk bangunannya
Pun tak lupa kuwarnai dinding-dinding hati dengan warna putih biru..
Warna yang kau bilang lambang dari kasih yang suci juga rindu

Pras...
Setengah windu Pras,
Setengah windu aku menunggumu
Dan tanah tak bertuan ini lah yang kau janjikan menjadi tempat kita bertamu dan bertemu

Pras...
Dihari ketujuh,pada pertengahan tahun sewindu yang lalu
Aku tak pernah lupa,saat itu bulan sedang tidak purnama
Dan kala itu lah,
Kau ucap sebait kalimat,yang lalu kuanggap sebagai prasetya
Sebuah janji yang pasti kau tepati
"Tunggu aku di kabisat kedua.Dalam tahun,hari,juga waktu yang sama"

Tapi Pras,
Kabisat kedua sudah lewat
Setengah windu itu sudah berlalu tepat tujuh hari yang lalu
Tetap saja aku tak merasakan kepulanganmu Pras..

Sebenarnya titah apa yang hendak kau bawa,
Dan akan kau haturkan pada siapa

Pras...
Sudah lenyapkah kesadaranmu
Sudah hilangkah separuh akalmu
Hingga kau tafsir titah tak bernama itu sebagai cinta
Lalu hendak kemana titah itu kau bawa?
Dan akan kau haturkan pada siapa?

Kau pergi dengan alasan untuk menyampaikan titah itu,
Lalu bagaimana dengan aku,
yang lebih dari setengah windu kau suruh untuk menunggu??

Di sini,
Diantara huma,ladang tak bernyawa,juga kastil tua
Telah kupahat prasasti dengan namamu Pras..
pun ku tuliskan riwayat Prasetya Dewabrata di sana
Lengkap dengan ukiran nelangsa juga goresan nestapa
Tidakkah kau tahu Pras?,
Prasasti itu ku ukir dengan pena cinta yan masih tersisa
dan juga tinta air mata...

Itu lah aku Pras...
Aku yang masih bertahan menunggumu
Aku yang tetap memegang janjiku kala itu,
"Ya,Aku akan menunggumu dikabisat kedua.bahkan kabisat ketiga,keempat dan berikutnya..."

catatan khusus : Arghh,sepertinya otakku sudah mulai berkarat Pras...
Apalagi hatiku, sepertinya memang ikut sekarat.
Aku kenal betul siapa kau Pras,bahkan caruk-maruk dalam ceruk hatimu aku pun bisa ikut merasakan...
Coretan ini adalah tentangmu Pras,
Ttg seorang "Dwi Prastiani", sahabat sekaligus saudara bagiku,yang saat ini menunggu Prasetya Dewabratanya.
Seseorang yang diharapkan mampu memegang janjinya/setia(prasetya).

Sabarlah Pras, Prasetyamu pasti datang.
meski tak bisa kupastikan prasetyamu akan hadir dengan wujud yang sama seperti sebelumnya ataukah muncul prasetya lain yang berbeda...