Biarkan Semuanya Demikian

Ada berlipat-lipat kenangan yg mungkin lupa kau rapikan, tapi biarkan ia demikian.

Ada sajaksajak usang yg lupa kau salin sejak kau tahu bahwa sajak tak mampu menghapus sebuah jarak, tapi biarlah ia tetap di tempatnya.

Ada titiktitik airmata yg mungkin jatuh saat tak ada mata yg bisa kau tatap, tak ada kata 'aku ada' yg biasa kau dengar setiap kali kegamangan menyergapmu seketika. Tapi tak apa jika harus demikian..

Ada selaksa hampa, saat orang yg biasa disampingmu tibatiba jauh. Tapi biarlah bila memang demikian..

Sebab bagiku,bagimu..

Yang demikianlah yg membuat kita tetap bertahan. 




Cinta dan Hiperbola

Pagi ini tidak ada kiriman bunga, yang ada justru kiriman pulsa. 
Yang ketika kutanya kenapa kirim pulsa, kau lalu menjawabnya "aku tadi beli. lalu kubagi.."

Kemarin juga demikian. Tidak ada pesan pendek : "aku cinta kamu selamanya", atau "aku betul-betul cinta kamu, sayang..", persis pesan-pesan yg dikirim beberapa teman kepada pacarnya. Tapi yang ada justru pesan pendek : "hati-hati di jalan.. jaga diri. Jangan lupa juga jaga hati."

Beberapa hari lalu juga begitu. Tak ada pujian : "Kamu sangat cantik hari ini" atau "seperti biasa,kamu selalu cantik. Aku bangga", pujian yg sering kudengar dilontarkan seorang laki-laki kepada kekasihnya di sini.  
Yang ada justru kau memberikan buku dan kumpulan artikel yg katanya bagus sebagai bahan bacaanku dan referensi untuk tulisanku.

Ketika kutanya "Apa aku tidak cantik?"
Kau lalu menjawabnya "Buku-buku itu yang akan membuatmu selalu cantik buatku. Bahkan jika kamu tidak bisa menjadi cantik sekalipun, maka jadilah pandai. Karena bagiku, perempuan pintar akan selalu tampak lebih cantik ketimbang perempuan yang hanya cantik secara fisik".

Sebelum-sebelumnya pun demikian. Tidak ada bahasa dan sikap cinta yg membual dan muluk-muluk untuk kudengar. Bahwa sejatinya mungkin cinta memang tak perlu dibahasakan hiperbola, cukup diisyaratkan lewat kata dan cara yang sederhana.

Satu hari ini aku bersyukur, menemukan cinta yang mengajariku berbagi. 
Menemukan cinta yang tak sering menyebut kata 'cinta' itu sendiri lewat mulutnya, melainkan lewat caranya bersikap dengan penuh cinta.  

Sungguh, satu hari ini aku semakin tahu dan harus kuakui
bahwa  aku mencintai caramu mencintaiku...

Teruntuk Sebuah Nama

Adalah cinta yang seyogyanya diikuti dengan me-ngasih-i, bukan me-nerima. Maka dari itu orang pun menyebutnya Cinta Kasih.

Bahwa kau memberiku kemerdekaan dalam bersikap,
Bahwa kau membolehkan aku masuk ke dalam sebuah kesalahan sebagai suatu pembelajaran,
Bahwa aku boleh kau hadapkan pada marah, masalah, dan lelah.
Bahwa kau membebaskan aku agar aku bisa bertanggungjawab pada semua itu;
Maka artinya kau telah memberiku cinta kasih.

Lantas.. adakah alasan bagiku untuk bisa tak mencintaimu?





#catatan usang yang masih tersimpan rapi dalam memori.




Sebentar saja, Tiga Menit Sebelum Kereta Berangkat

Lamat-lamat suara kedatangan kereta jatuh di kedua daun telingaku.
Aku tahu, suara berikutnya adalah bunyi dimana tanda keberangkatanmu sudah ditentukan.
Dan bunyi selanjutnya hanyalah laju mesin-mesin kereta yang beradu padu dengan besi-besi rel itu.
Bunyi orang-orang mengucap selamat jalan bahkan selamat tinggal.
Bunyi pedagang asongan di sepanjang peron, dan bunyi dari detak jantungku sendiri.
Selain bunyi-bunyian itu, bisa kupastikan tak ada bunyi lain yang akan kudengar,termasuk bunyi dari suaramu.

Bagimu mengucap selamat tinggal atau selamat jalan adalah hal pertama yang tak mau kau lakukan,
Dan menitikkan air mata adalah hal kedua yang sama sekali tak ingin kau lakukan saat menjelang kepergian dan perpisahan yang berjarak waktu berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun, dan berjarak ratusan kilometer dari tempatku berdiri sekarang ini, sebuah peron. Tempat dimana kau masih berdiri mematung, bersandar di satu tiang, menatap satu per satu gerbong yang lewat, lalu baru berbalik menghadapku..

Memelukku tiga menit saja, apa kau mau?
Mendengar detak yang sungguh mengganggu, dan meredamnya biar aku lalu bisa berkonsentrasi mendengar apa-apa yang keluar dari mulutmu.
Aku bisa saja berteriak, menendang tempat sampah, membanting handphone yang nanti akan menjadi satu-satunya sahabat yang bisa menghubungkanmu denganku sewaktu-waktu, menendang tiang yang justru jadi tempatmu bersandar bukannya aku, atau menepis botol-botol air minum dan kaleng-kaleng minuman yang dijajakan di hadapanku, aku mampu melakukannya demi meredam perasaan tak nyaman.
Aku orang yang keras, susah ditaklukkan, dan benar-benar sulit untuk dikendalikan.
Tapi kau tidak keberatan kan?

Aku biasa datang ke arahmu tanpa tahu kau sudah lama menunggu.
Aku tak pernah tepat waktu, aku sering lupa pada janji-janji kecil yang kuucapkan sebelumnya.
Aku bangun-tidur semauku, dan tak pernah kujadwalkan tiap jam berapa dan tiap hari apa aku harus menemuimu,
Aku akan mencium keningmu tanpa menanyaimu terlebih dulu apakah kau mau atau tidak.
Aku selalu begitu... tapi kau tak marah kan? Kau bahkan tertawa ketika mengingatnya.

Maukah kau memelukku barang tiga menit saja, diantara penuh sesak orang-orang dalam peron?
diantara jeda waktu yang diberikan kereta itu kepada kita sebelum akhirnya mengangkutmu pergi dalam sebuah perjalanan yang panjang? maukah?
maukah kau mendengarkan bunyi detak yang aku sendiri tak mengenalnya.
Detak yang berirama sedih sambil membisikkan, "Jangan pernah mencintaiku karena alasan apa pun. Kecuali satu, karena kau mencintai caraku mencintaimu.. cukup itu"

Saat tiga menitku habis, pergilah. Tiga menit yang menjadi satu dari sekian cara sederhanaku mencintaimu..

Biarkan Semuanya Demikian

Ada berlipat-lipat kenangan yg mungkin lupa kau rapikan, tapi biarkan ia demikian.

Ada sajaksajak usang yg lupa kau salin sejak kau tahu bahwa sajak tak mampu menghapus sebuah jarak, tapi biarlah ia tetap di tempatnya.

Ada titiktitik airmata yg mungkin jatuh saat tak ada mata yg bisa kau tatap, tak ada kata 'aku ada' yg biasa kau dengar setiap kali kegamangan menyergapmu seketika. Tapi tak apa jika harus demikian..

Ada selaksa hampa, saat orang yg biasa disampingmu tibatiba jauh. Tapi biarlah bila memang demikian..

Sebab bagiku,bagimu..

Yang demikianlah yg membuat kita tetap bertahan. 




Cinta dan Hiperbola

Pagi ini tidak ada kiriman bunga, yang ada justru kiriman pulsa. 
Yang ketika kutanya kenapa kirim pulsa, kau lalu menjawabnya "aku tadi beli. lalu kubagi.."

Kemarin juga demikian. Tidak ada pesan pendek : "aku cinta kamu selamanya", atau "aku betul-betul cinta kamu, sayang..", persis pesan-pesan yg dikirim beberapa teman kepada pacarnya. Tapi yang ada justru pesan pendek : "hati-hati di jalan.. jaga diri. Jangan lupa juga jaga hati."

Beberapa hari lalu juga begitu. Tak ada pujian : "Kamu sangat cantik hari ini" atau "seperti biasa,kamu selalu cantik. Aku bangga", pujian yg sering kudengar dilontarkan seorang laki-laki kepada kekasihnya di sini.  
Yang ada justru kau memberikan buku dan kumpulan artikel yg katanya bagus sebagai bahan bacaanku dan referensi untuk tulisanku.

Ketika kutanya "Apa aku tidak cantik?"
Kau lalu menjawabnya "Buku-buku itu yang akan membuatmu selalu cantik buatku. Bahkan jika kamu tidak bisa menjadi cantik sekalipun, maka jadilah pandai. Karena bagiku, perempuan pintar akan selalu tampak lebih cantik ketimbang perempuan yang hanya cantik secara fisik".

Sebelum-sebelumnya pun demikian. Tidak ada bahasa dan sikap cinta yg membual dan muluk-muluk untuk kudengar. Bahwa sejatinya mungkin cinta memang tak perlu dibahasakan hiperbola, cukup diisyaratkan lewat kata dan cara yang sederhana.

Satu hari ini aku bersyukur, menemukan cinta yang mengajariku berbagi. 
Menemukan cinta yang tak sering menyebut kata 'cinta' itu sendiri lewat mulutnya, melainkan lewat caranya bersikap dengan penuh cinta.  

Sungguh, satu hari ini aku semakin tahu dan harus kuakui
bahwa  aku mencintai caramu mencintaiku...

Teruntuk Sebuah Nama

Adalah cinta yang seyogyanya diikuti dengan me-ngasih-i, bukan me-nerima. Maka dari itu orang pun menyebutnya Cinta Kasih.

Bahwa kau memberiku kemerdekaan dalam bersikap,
Bahwa kau membolehkan aku masuk ke dalam sebuah kesalahan sebagai suatu pembelajaran,
Bahwa aku boleh kau hadapkan pada marah, masalah, dan lelah.
Bahwa kau membebaskan aku agar aku bisa bertanggungjawab pada semua itu;
Maka artinya kau telah memberiku cinta kasih.

Lantas.. adakah alasan bagiku untuk bisa tak mencintaimu?





#catatan usang yang masih tersimpan rapi dalam memori.




Sebentar saja, Tiga Menit Sebelum Kereta Berangkat

Lamat-lamat suara kedatangan kereta jatuh di kedua daun telingaku.
Aku tahu, suara berikutnya adalah bunyi dimana tanda keberangkatanmu sudah ditentukan.
Dan bunyi selanjutnya hanyalah laju mesin-mesin kereta yang beradu padu dengan besi-besi rel itu.
Bunyi orang-orang mengucap selamat jalan bahkan selamat tinggal.
Bunyi pedagang asongan di sepanjang peron, dan bunyi dari detak jantungku sendiri.
Selain bunyi-bunyian itu, bisa kupastikan tak ada bunyi lain yang akan kudengar,termasuk bunyi dari suaramu.

Bagimu mengucap selamat tinggal atau selamat jalan adalah hal pertama yang tak mau kau lakukan,
Dan menitikkan air mata adalah hal kedua yang sama sekali tak ingin kau lakukan saat menjelang kepergian dan perpisahan yang berjarak waktu berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun, dan berjarak ratusan kilometer dari tempatku berdiri sekarang ini, sebuah peron. Tempat dimana kau masih berdiri mematung, bersandar di satu tiang, menatap satu per satu gerbong yang lewat, lalu baru berbalik menghadapku..

Memelukku tiga menit saja, apa kau mau?
Mendengar detak yang sungguh mengganggu, dan meredamnya biar aku lalu bisa berkonsentrasi mendengar apa-apa yang keluar dari mulutmu.
Aku bisa saja berteriak, menendang tempat sampah, membanting handphone yang nanti akan menjadi satu-satunya sahabat yang bisa menghubungkanmu denganku sewaktu-waktu, menendang tiang yang justru jadi tempatmu bersandar bukannya aku, atau menepis botol-botol air minum dan kaleng-kaleng minuman yang dijajakan di hadapanku, aku mampu melakukannya demi meredam perasaan tak nyaman.
Aku orang yang keras, susah ditaklukkan, dan benar-benar sulit untuk dikendalikan.
Tapi kau tidak keberatan kan?

Aku biasa datang ke arahmu tanpa tahu kau sudah lama menunggu.
Aku tak pernah tepat waktu, aku sering lupa pada janji-janji kecil yang kuucapkan sebelumnya.
Aku bangun-tidur semauku, dan tak pernah kujadwalkan tiap jam berapa dan tiap hari apa aku harus menemuimu,
Aku akan mencium keningmu tanpa menanyaimu terlebih dulu apakah kau mau atau tidak.
Aku selalu begitu... tapi kau tak marah kan? Kau bahkan tertawa ketika mengingatnya.

Maukah kau memelukku barang tiga menit saja, diantara penuh sesak orang-orang dalam peron?
diantara jeda waktu yang diberikan kereta itu kepada kita sebelum akhirnya mengangkutmu pergi dalam sebuah perjalanan yang panjang? maukah?
maukah kau mendengarkan bunyi detak yang aku sendiri tak mengenalnya.
Detak yang berirama sedih sambil membisikkan, "Jangan pernah mencintaiku karena alasan apa pun. Kecuali satu, karena kau mencintai caraku mencintaimu.. cukup itu"

Saat tiga menitku habis, pergilah. Tiga menit yang menjadi satu dari sekian cara sederhanaku mencintaimu..