Peziarah Yang Tak Sempat Singgah

Tepekur aku di batu hitam
Menggerayang lembut wangi batang cempaka
Candhik kala memangku mesra rinduku
Duh Gusti...
Sudah kutulis cinta di satu nisan
Pun kusiapkan sayang dalam mahar selembar kafan
Kapankah pinangan ini Kau sambut??

Duhai langit,(penghulu penghalau kelabu)
Wahai bumi,(saksi setiap derak sujud meditasiku)
Menyibaklah sebagai hijab,biar terkabul satu ijab

Rumput--lumut--semut
Kuselip antara kalian sebuah cungkup
Malam--siang--petang...
Kutitip takdir akhirku pada kalian

Bias candhik kala menyilau mataku
Satu keranda berkelebat
Ranjang yang kuhampar
Pinggiran yang kuhias dengan batang cempaka
Juga cungkup berkayu cendana
Ditakdir untuk jasad orang lain

Duh Gusti Pangeran...
Candhik kala itu menabuh rinduku menjadi tetesan di batu hitam
Lalu seleret memberi isyarat

Duh Gusti!
Terkesiap aku sadar
Satu dari lima waktuku telat,terlewat!
Satu meditasi harus terkejar dengan ayat semburat
Inikah tanda kenapa belum sudi Kau ijinkan aku mati??

Tiga denyut nadi dalam dua tarikan nafas
Menyongsongku terhenyak ingat tentang jenazah tadi
Duh Gusti Pangeran,
Terhitungkah itu sebagai dosa

Jika pada chandik kala sudah tegas kuberkata
"Sampaikan maafku,aku hanya peziarah yang tak sempat singgah"...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peziarah Yang Tak Sempat Singgah

Tepekur aku di batu hitam
Menggerayang lembut wangi batang cempaka
Candhik kala memangku mesra rinduku
Duh Gusti...
Sudah kutulis cinta di satu nisan
Pun kusiapkan sayang dalam mahar selembar kafan
Kapankah pinangan ini Kau sambut??

Duhai langit,(penghulu penghalau kelabu)
Wahai bumi,(saksi setiap derak sujud meditasiku)
Menyibaklah sebagai hijab,biar terkabul satu ijab

Rumput--lumut--semut
Kuselip antara kalian sebuah cungkup
Malam--siang--petang...
Kutitip takdir akhirku pada kalian

Bias candhik kala menyilau mataku
Satu keranda berkelebat
Ranjang yang kuhampar
Pinggiran yang kuhias dengan batang cempaka
Juga cungkup berkayu cendana
Ditakdir untuk jasad orang lain

Duh Gusti Pangeran...
Candhik kala itu menabuh rinduku menjadi tetesan di batu hitam
Lalu seleret memberi isyarat

Duh Gusti!
Terkesiap aku sadar
Satu dari lima waktuku telat,terlewat!
Satu meditasi harus terkejar dengan ayat semburat
Inikah tanda kenapa belum sudi Kau ijinkan aku mati??

Tiga denyut nadi dalam dua tarikan nafas
Menyongsongku terhenyak ingat tentang jenazah tadi
Duh Gusti Pangeran,
Terhitungkah itu sebagai dosa

Jika pada chandik kala sudah tegas kuberkata
"Sampaikan maafku,aku hanya peziarah yang tak sempat singgah"...